Translate

Tuesday, July 17, 2018

Lestarikan Budaya Lokal dengan Angkringan Rumah Baca

Keragaman budaya menjadikan suatu daerah memiliki ciri khas. Madiun adalah salah satu kota yang ada di Jawa Timur yang memiliki banyak keragaman budaya bahkan termasuk budaya pendidikan. Masyarakat Mejayan Kabupaten Madiun kini memiliki tempat nongkrong. Tidak hanya sekedar nongkrong akan tetapi bisa saling asah, asuh dan asih diantara masyarakat. Tempat nongkrong ini merupakan tempat untuk berinteraksi antar masyarakat, Angrumba namanya.

Angrumba yakni angkringan rumah baca yang berlokasi di Kecamatan Caruban Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Angkringan ini memang disengaja didesain sebagai tempat yang tidak hanya sekedar untuk kopi tetapi untuk mencari inspirasi. Angrumba merupakan salahsatu bidang garap Lembaga Riset dan Pemberdayaan Masyarakat untuk transformasi sosial. Perwujudan tempat belajar dengan kemasan angkringan ini dilatarbelakangi oleh adanya fakta bahwa ada potensi lokal dan sumber daya alam yang luar biasa hasil industri dan makanan khas yang telah terkenal.

Tidak hanya itu, keragaman di Madiun juga perlu dilestarikan. Disisi lain masyarakat Madiun tidak mampu mengelola sendiri sehingga lebih memilih ke luar daerah namun ketika sukses tidak kembali lagi ke Madiun.

“Saya sendiri dulu adalah masyarakat Madiun, sewaktu muda ada semacam mitos di kalangan anak muda, metu le soko Madiun lek kepengen dadi wong, nek ora metu soko Madiun koe ra dadi wong, keluar nak jika ingin menjadi orang tapi ketika keluar tidak balik (ke Madiun)”, jelas Setiya Adi Purwanta difabel netra asal Madiun yang juga penggagas Angrumba.

Setia Adi menambahkan, “Maka kita keluar. Untuk belajar atau untuk bekerja. Tapi setelah keluar, kita tidak kembali (ke Madiun). Itu yang terjadi sampai sekarang. Nah karena mitos tadi, kini Madiun kosong dengn putra-putra terbaiknya”.

Angrumba hadir dengan tujuan untuk memberikan ruang kepada masyarakat agar dapat melihat potensi alam, sosial, dan budaya lokal. Dikutip dari BBS TV Madiun melalui channel youtube, Umbaran Joko Nugroho sebagai ketua Angrumba menjelaskan tujuan didirikannya Angrumba, “Angrumba ini didirikan untuk memberikan peluang terhadap generasi muda untuk bisa berkumpul, berpikir kreatif untuk menampung keinginan dan tantangan di wilayah Kabupaten Madiun untuk menyatukan potensi dan menjembatani cari jalan keluar. Jadi disini berkumpul, berdiskusi, saling asah, asih dan asuh.” (http://youtu.be/d4_G44uFh44).

Angrumba yang didesain sebagai tempat nongkrong bagi masyarakat sekitar menyediakan makanan dan minuman tradisional Madiun, selain itu juga ada wifi gratis dan buku-buku bacaan yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Disamping untuk nongkrong dengan santai, masyarakat dapat pula melakukan tugas mandiri maupun kelompok, berdiskusi, seminar, workshop, pementasan, dan lain sebagainya.

Wednesday, July 12, 2017

Saat Saya Salah Menentukan Prioritas



Bagi banyak orang, mungkin mencari dan mendapatkan pekerjaan itu mudah atau bahkan tidak pernah merasakan sulitnya mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidup. Saya tidak tau saya ini termasuk tipe yang mana. Karena saat kita berada dalam kelebihan, terkadang kita lupa untuk bersyukur dan lupa untuk bahu membahu meringankan beban saudara kita. Astagfirulohaladzim.

Hari ini, saya terbangun lebih pagi dari hari biasanya. Setelah sembuh dari sakit yang sudah cukup lama saya tahan berbulan-bulan, saya sekarang sudah jauh lebih baik dan bersemangat. Saya berangkat bekerja di dua tempat hari ini. Di tempat pertama, saya hanya produktif beberapa jam saja, sisanya saya hanya duduk terdiam melengkapi absen formalitas. Setelah itu saya pindah ke tempat kerja saya yang kedua dan saya hanya produktif di akhir sesi yang saya ikuti.

Selebihnya, saya hanya duduk menatap laptop dan tak banyak yang bisa saya perbuat. Artinya waktu saya mungkin dengan mudahnya saya hambur-hamburkan dan lupa bahwa saya memiliki seorang teman yang sedang sangat membutuhkan dukungan saya untuk masa depannya. Namanya Yoga. Dia seorang laki-laki Tuli yang sudah menjalani masa magang di sebuah supermarket selama beberapa bulan diantara semua temannya yang bisa mendengar. Pernah satu kali saya datang ke supermarket itu pagi-pagi sekali untuk mendampingi dia wawancara dengan supervisornya. Namun belum jodoh. Supervisornya datang siang sedangkan siang hari saya harus bekerja.

Saya tidak tau bagaimana kabar selanjutnya saat itu. Hingga kemarin, saya mendapat informasi dari wassap grup bahwa Yoga membutuhkan penerjemah bahasa isyarat untuk tes wawancaranya. Namun saya tidak bisa hadir membantunya menerjemahkan karena saya harus bekerja. Saya lupa bahwa sesungguhnya Yoga sangat membutuhkan bantuan penerjemah bahasa isyarat saat ini. Saya lalai. Saya salah. Salah memprioritaskan kepentingan saya diatas kepentingan orang lain yang benar-benar tulus membutuhkan uluran tangan saya. Saya egois. Saat itu memang kondisi saya sedang sakit perut karena menstruasi hari pertama dan saya tidak fokus bahwa Yoga membutuhkan penerjemah untuk hari rabu, bukan hari selasa.

Yang terpikir saat saya membaca informasi itu adalah akan ada kawan penerjemah lain yang akan datang membantu karena biasanya selalu ada teman penerjemah yang siap membantu kapan saja. Prediksi saya sangat meleset jauh dan bagi Yoga ternyata berakibat fatal. Saya sungguh merasa bersalah dan lemah, tidak tau bagaimana saya bisa memperbaiki kesalahan ini. Saya ingat, Yoga adalah Tuli yang tidak aktif berkegiatan di komunitas. Karena saya tau, Yoga harus bekerja, karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya tidak memiliki pekerjaan. Dia juga pernah keluar dari universitas karena keberatan membayar biaya kuliahnya.

Saya miris, saya bingung. Saat saya mencari-cari solusi untuk masalah saya sendiri, saya lalai mengulurkan tangan untuk membantu mereka yang kesulitan. Mada, mudah bagi kamu untuk meluangkan waktu sebentar saja untuk membantu Yoga loh wawancara sebentar saja. Pasti dia akan senang dan lega meskipun kita tidak tahu apakah dia akan lolos atau tidak. Pernah kan kamu merasa sakit hati sekali saat orang yang sangat kamu harapkan bantuannya tidak sedikit pun berusaha mencarikanmu jalan? Sakit bukan? Kau tau rasanya sakit, tapi kenapa kau tidak gunakan hatimu sehingga melukai hati orang lain? Saya salah, ini pelajaran bagi saya untuk tidak lagi meremehkan permintaan tolong orang lain. Mungkin bagi kamu, menolong menerjemahkan itu sangatlah mudah dan sepele, tapi bagi orang lain bisa jadi sangat penting dan menentukan hidupnya di masa depan.

Saya belum membalas kabar wassap yang dikirimkan Yoga kepada saya bahwa dia gagal bekerja di supermarket. Yang harus saya lakukan sekarang adalah, mencoba memperbaiki kesalahan saya dengan menghubungi pihak supermarket. Karena ini salah saya. Sejujurnya saya tidak ingin membuat teman-teman Tuli saya manja dengan selalu mengandalkan jurubahasa isyarat atau penerjemah di setiap kegiatan mereka. Saat itu saya pun salah karena mereka berhak mendapatkan informasi melalui bahasa isyarat. Saya lupa bahwa bangsa ini belum menjadi bangsa yang familiar dengan bahasa isyarat dan tidak banyak orang yang bisa bahasa isyarat. Doakan saya tidak lagi melakukan hal bodoh dan ceroboh seperti ini.

Tulisan ini murni saya niatkan agar beban pikiran saya tersalurkan dan kelak mengingatkan saya lagi untuk bisa menentukan prioritas. Terimakasih. 

Saturday, August 6, 2016

bahasa isyarat bisa menjadi amal jariyah

bersama fani di pernikahan mbak vero 2014
Kisahku kali ini tentang sahabatku yang bernama Fani. dia seorang Tuli yang rajin dan pekerja keras. semasa hidupnya, aku mengenalnya sebagai pribadi yang gemar bekerja, tidak banyak mengeluh, dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. meskipun aku hanya mengenalnya selama 2 tahun. dia lah guru pertamaku yang mengajarkanku bahasa isyarat. saat pertama kali bertemu dengan Fani, aku tidak menyangka bahwa dia seorang Tuli, orang yang tidak bisa mendengar. kesan pertamaku melihatnya adalah dia orang yang rajin. meskipun saat itu tidak ada senyum yang dia tujukan untukku. aku tidak tersinggung dengan ketidakramahannya padaku saat pertama kali kami bertemu. wajar, karena aku datang tiba-tiba tanpa tujuan pasti dan aku sendiri orang dengar di tengah komunitas Tuli, Deaf Art Community (DAC), yang sedang belajar bahasa isyarat bersama Fani.

hari pertama aku belajar bahasa isyarat saat itu, aku satu-satu orang dengar di tengah-tengah teman Tuli muda yang belajar bahasa isyarat bersama Fani. aku sempat berpikir, loh murid dan gurunya kok sama-sama Tuli? ternyata setelah banyak berteman dengan mereka, hal tersebut wajar adanya. karna tidak semua Tuli menggunakan bahasa isyarat. sayangnya lagi, bahasa isyarat tidak sepenuhnya mereka terima dari guru mereka, baik di sekolah umum maupun di SLB.

Dulu Fani mengajarkan bahasa isyarat per kata. artinya, setiap kata diterjemahkan ke bahasa isyarat. namun tidak semua kata ada bahasa isyaratnya. dan menggunakan imbuhan dan akhiran seperti me-,di-,-kan, dll. karena yang kami pelajari disini adalah bahasa isyarat indonesia (BISINDO). bukan berarti bahasa isyarat adalah bahasa yang tidak lengkap. bahasa isyarat pun merupakan sebuah bahasa, LENGKAP. hanya saja cara yang penggunaannya yang berbeda dengan bahasa lisan. namun pesan apa saja bisa disampaikan menggunakan bahasa isyarat.

Kata pertama yang aku coba praktekkan saat itu adalah Turki. sebenarnya sebelum kata Turki, ada beberapa kata yang Fani ajarkan di kelas. namun aku tidak berani menggerakkan tanganku mengikuti isyarat mereka. selain malu, aku tidak terbiasa berbicara menggunakan tangan. namun saat mengisayaratkan kata Turki, spontan aku mencobanya. karena kata isyarat Turki yang Fani ajarkan ada 2 macam dan saat itu murid kelas bahasa isyarat yang bernama Hafidh berdiri untuk mengulangnya. selain itu, kebetulan aku sedang mengerjakan skripsi mengenai keanggotaan Turki di dalam Uni Eropa. Aku suka Turki. Dan itulah kata pertamaku dalam bahasa isyarat.

Aku sedikit malu saat Fani melirik kepadaku. ini pertama kalinya kami kontak mata, karena sedari tadi Fani tidak menghiraukan keberadaanku. Dia mengangguk dan mengulangi isyaratnya hingga aku bisa mencontohkan gerakan yang sama dengan gerakan tangannya. inilah pertama kalinya kami berkomunikasi. ternyata dai tidak sepenuhnya cuek. setelah kelas selesai, Mbak Dinna sebagai relawan di DAC mengenalkanku pada teman-teman Tuli. mereka menyebutkan nama mereka menggunakan bahasa isyarat. Mbak Dinna lah yang membantuku berkomunikasi dengan mereka. Aku sama sekali tidak bisa dan grogi. Sampai akhirnya Fani berdiskusi dengan teman-teman Tuli dan mereka memberiku nama isyarat yang aku gunakan sampai sekarang. Terima kasih Fani dan teman-teman, aku punya nama isyarat :)

momen saat itu 90 % seperti ini, aku sangat mengingatnya

Hingga beberapa kali pentas dan kegiatan DAC aku ikuti dan Oktober 2013 adalah pertama kali aku bertugas sebagai juru bahasa isyarat atau penerjemah bahasa isyarat di suatu forum atau seminar di Jogja. singkat cerita, saat itu SIGAB sebagai penyelenggara acara memiliki peserta Tuli namun tidak ada juru bahasa yang bisa bertugas dan akhirnya aku yang diajak untuk membantunya. saat itu hari pertama aku bekerja di sebuah perusahaan saham di jalan magelang, tapi beruntungnya aku mendapat ijin meskipun tidak sehari penuh. dari pengalaman itu, pikiranku menjadi terbuka. mungkin inilah yang membuat Tuli banyak tertinggal. tidak banyak informasi dan ilmu yang mereka dapatkan karena tidak banyak yang dapat mereka akses menggunakan bahasa ibu mereka, yakni bahasa isyarat.

aku terus belajar karena teman-teman Tuli terus menyemangatiku dan sangat terbuka mengajari siapapun yang ingin belajar bahasa isyarat. setiap Tuli pengguna bahasa isyarat yang aku temui selama ini, mereka selalu terbuka untuk mengajarkan bahasa isyarat. itulah kekuatan luar biasa yang aku rasakan. bayangkan saja, jika ada orang luar negeri yang tidak bisa bahasa indonesia dan ingin berkomunikasi dengan kita, kita pasti akan dengan senang hati mengajarkan bahasa indonesia ke mereka, kan? terlebih saat orang tersebut mau terbuka mempelajari bahasa kita. Ya demikian juga dengan teman-teman Tuli. mereka akan sangat senang jika ada orang dengar yang mau belajar bahasa isyarat, karena dengan itulah artinya bahasa mereka dihargai dan diakui keberadaannya.

Selama aku mengenal Fani, memang dialah yang memiliki porsi paling banyak mengajarkanku bahasa isyarat hingga dia tutup usia. aku yakin, tidak hanya aku saja yang mendapatkan ilmu yang dia bagikan secara cuma-cuma. aku yakin banyak orang yang menerima kebaikan hatinya membagikan ilmu dengan tulus. bahkan suatu malam, kami pernah janjian untuk berlatih bersama sebelum Fani presentasi di Dinas Sosial DIY keesokan harinya. namun saat itu aku datang terlambat karena aku flu berat dan butuh tidur. saat kami bertemu dan berlatih, ternyata Fani juga sedang sakit. namun aku kalah telak jika dibandingkan dia. Fani tetap datang tepat waktu dan tetap bekerja paruh waktu di Madre Angkringan Tuli meskipun dia juga sedang flu. Rasanya MALU BANGET!

kegirangan tengah malam akhrinya sampai di hotel mewah

Sekitar 1 minggu sebelum Fani meninggal, aku berkesempatan mendampinginya ke Jakarta selama 3 hari karena dia akan mempresentasikan mengenai pengurangan risiko bencana yang inklusif. aku sangat tidak percaya diri namun Fani terus menyemangatiku hingga kami terus berlatih, juga ditemani oleh Mbak Esti, juru bahasa yang lebih banyak mendampingi Fani. Hingga malam sebelum presentasi pun, Fani mengajakku berlatih. Jam 11 malam, kami baru mendarat di Jakarta dan tiba di hotel jam 12 malam lebih. Pun Fani masih mengajakku untuk berlatih. Jujur saja, aku sangat kelelahan dan sempat tertidur saat Fani terus menggerakkan tangannya. Maafkan aku Fani. Namun aku sempat mengambil momen berharga itu, karena aku ingin dunia tahu bahwa semangatmu luar biasa. momen yang aku abadikan ini pun menjadi pengingatku akan semangatmu dan aku akui kekalahanku.

fani masih aja semangat latihan

Fani sudah mengantarkan aku masuk ke dunia Tuli. mengenal budaya dan bahasanya. tidak sedikit ilmu yang dia tularkan kepada teman-temannya. tidak hanya ilmu, namun semangatnya juga menjadi motivasi khususnya untukku agar terus maju. bahkan di hari meninggalnya, Fani masih menunjukkan bukti kesemangatannya. minggu pagi, kami bertemu di tugu jogja untuk mengikuti jogja color fun run. fani sudah datang lebih awal ketimbang aku yang sulit bangun pagi ini. setelah jogja color fun run, dia masih sempat datang ke SST (Sekolah Semangat Tuli) untuk mengajarkan bahasa indonesia kepada teman-teman Tuli. aku sangat mengantuk saat itu jadi aku tidak datang, ada rasa menyesal karna aku lebih mementingkan diriku. aku dengar, fani mulai lelah sehingga dia memutuskan untuk istirahat di rumah, tidak ikut menemani Ahmad bermain futsal siang itu.

alih-alih mau istirahat, ternyata kucing peliharaan fani melahirkan. fani yang sedang sendirian di rumah, mengurus kucing peliharaannya itu. mulai dari menyediakan handuk untuk melahirkan, hingga memandikan bayi-bayi kucing yang masih berlendir dan berlumur darah. setelah itu fani mandi membersihkan diri dan tidur satu kamar dengan kucing-kucing itu. padahl menurut ahmad (pacar fani), kondisi fani saat itu asmanya sudah kambuh. apalagi, fani belum sarapan. ahmad menyuruhnya pindah ke kamar yang lain, namun fani tidak mau. katanya dia senang melihat kucingnya yang lucu-lucu.

setelah ahmad membelikan makan, ternyata fani tidak bisa menelannya karena nafasnya sudah terengah-engah. hanya dapat meminum beberapa teguk air saja. sayangnya persediaan tabung oksigen di rumah fani juga sudah habis. asma fani semakin menjadi-jadi. ahmad sempat menghubungi ibu fani untuk segera pulang. namun saat ahmad pergi, ibu fani datang ke rumah dan mendapati fani sedang asik main hape sembari menonton tv. mereka tidak saling berkomunikasi dan ibunya berpikir fani baik-baik saja sehingga ibunya pergi lagi untuk kepentingan yang lain.

saat ahmad kembali ke rumah, ahmad kecewa karena fani tidak memberitahu ibunya. hingga fani mulai kejang, ahmad berlari ke rumah tetangga untuk mencari bantuan. sayangnya, fani sudah tidak sadarkan diri saat tabung oksigen sudah coba diberikan dan ibunya sudah kembali pulang karena dihubungi oleh tetangganya. malam itu juga, sekitar pukul 8 malam, fani diantar ke rumah sakit panti rapih oleh ahmad dan ibunya. di tengah perjalanan, fani dipeluk oleh ahmad dalam keadaan tidak sadarkan diri.

ahmad bilang, saat ibunya melaporkan ke pihak rumah sakit di bagian IGD, petugas terlihat lamban mengurus adminastrasi dan tidak sigap mengantar fani. setelah dipasang alat bantu pernafasan dan cek detak jantung, aku tidak tau apa nama alat-alat tersebut, ternyata fani tak kunjung membuka matanya. ahmad melihat monitor detak jantung masih naik turun hingga tiba-tiba tidak ada hitungan menit, alat tersebut hanya menunjukkan garis datar yang artinya detak jantung fani berhenti.

fani dinyatakan meninggal.

sakit sekali hati kami saat mendengar berita mendadak di malam yang sepi kala itu. tidak seperti biasanya, kami saat itu sedang berkumpul di Madre dan kami tidak langsung menuju rumah sakit karena kami masih tidak percaya dan mengira berita dari ahmad tersebut hanya bercanda saja. hingga ahmad mengirimkan foto fani yang sudah tidak sadarkan diri, tangis kami pun pecah. tanpa aku bisa kontrol, aku pun berteriak dalam tangis dan hati ini rasanya sakit sekali. bahkan saat aku menuliskan cerita ini, hatiku masih terasa sakit.

fani yang ringan tangan sudah pergi untuk selama-lamanya. hari kepergiannya, aku memimpikannya saat aku tidur siang. semalam, aku memang bercertia pada Arief, teman fani yang juga Tuli, mengenai semangat kerja fani. dalam mimpiku itu, Arief mendatangiku dan menegurku sembari berkata dengan bahasa isyarat, "Kamu ini tidur terus, gak malu yah sama fani? lihat tuh fani kerja keras dan gak banyak tidur kaya kamu!"

setelah itu ada sosok fani yang melintas di mimpiku sambil tersenyum melihat kemalasanku. aku pun terbangun, ternyata sudah lebih dari 2 jam aku tertidur. aku pergi mandi dan mengambil air wudhu. setelah sholat, aku pergi ke Madre dan tidak melihat ahmad dan fani yang seharusnya bertugas hari ini. hingga kabar duka itu aku terima melalui grup whatsapp.

kini, fani sudah tidak bersama kami di dunia. insyallah kami akan bertemu lagi kelak di akhirat. semoga Allah mengampuni segala dosamu dan menerima semua amalanmu hingga memberikanmu tempat terindah di sisi-Nya. ilmu yang kau berikan insyallah akan menjadi amal dan pahalamu yang akan terus dihitung meskipun engkau sudah tidak hidup di dunia. Allah Maha Pengampun, selebihnya kami di dunia ini hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan melanjutkan perjuanganmu yang luar biasa.

setelah hampir 2 tahun kepergianmu, aku mendapati ahmad rutin berkunjung ke makammu. sekedar untuk membersihkan makammu, menabur bunga, dan berdoa. sore itu, ahmad menjemputku setelah aku bertugas menjadi peraga bahasa isyarat di JogjaTV. setelah ahmad menjemputku, dia mengajakku mengunjungi makammu dan menabur bunga di atas pusaranmu. ahmad bilang, dia rutin datang mengunjungimu karena dia tidak ingin fani marah dan kecewa. ahmad ingin membuktikan bahwa dia masih sayang dan masih mengingatmu. juga masih mengingat kenangan dan harapan yang dibangunnya bersamamu.

aku bertanya ke ahmad, "Kalau kamu berdoa, apa yang kamu katakan?"

"Aku tidak tahu apakah kalimat doaku benar atau salah. Tapi aku tetap berdoa agar Tuhan menjaganya dan Tuhan memberikan tempat yang indah disana. Aku ingin fani tetap bahagia di sana", ujar ahmad dengan bahasa isyarat. Aku hanya bisa membalasnya dengan ucapan amien dan memberikannya saran untuk berdoa juga di mana saja, tidak harus datang ke makam. 
ahmad yang sedang berdoa untuk fani

Aku memang jarang datang ke makam, karena orang tuaku berpesan, yang lebih penting adalah doa. tidak harus datang ke makam karena ditakutkan akan berbuat sirik seperti minta didoakan oleh orang yang sudah meninggal. namun, sudah 3 kali aku datang ke makammu, tujuanku hanya ingin lebih mengingatmu dan mengingatkanku bahwa setiap orang akan mati. makammu mengingatkan aku untuk berbuat baik dan membagikan ilmu, karena ilmu baik yang kita bagikan kepada orang lain tidak akan berkurang, namun akan menjadi amal jariyah kita yang akan terus dihitung pahalanya meskipun kita telah meninggal dunia.

terima kasih fani. disinilah aku menemukan passionku, bahasa isyarat. dan fani mengantarkanku masuk ke dalamnya. dialah pembuka pintu dunia Tuli yang hingga kini aku terus jelajahi.
berkunjung ke makam fani setelah bertugas sebagai juru bahasa isyarat di JogaTV

Wednesday, August 26, 2015

My First Overseas Trip, Thailand, February 2011
                                                            By : Ramadhany Rahmi

                        Kaget dan tentu saja senang saat saya mengetahui ternyata terdapat nama saya di www.ayfn-hq.org  sebagai salah satu peserta yang lolos seleksi tahap terakhir, yaitu wawancara yang diadakan oleh sebuah organisasi mahasiswa independent yang bernama ASEAN YOUTH FRIENDSHIP NETWORK atau biasa disebut AYFN. Setelah mempersiapkan selama kurang lebih 2 bulan untuk perjalanan luar negeri pertama saya ini, saya berangkat dari Jogja menuju Jakarta menggunakan pesawat, karena Alhamdulilah saya mendapat tiket promo. Hehehe, lumayan untuk berhemat. Saya berangkat ke Thailand pada tanggal 5 February 2011 dari Soekarno-hatta International Airport. Kota tujuan saya si Thailand tidak lain adalah Bangkok, as the capital city of Thailand karena saya pergi ke Thailand ini bukan untuk sekedar berjalan-jalan namun untuk mengikuti Inter-cultural Learning and Friendship Program yang tujuannya utamanya adalah untuk menjalin persahabatan yang baik antar sesama pemuda ASEAN yang ke depannya diharapkan mampu membawa hasil positif dalam kerjama ASEAN Community yang diharapkan dapat terselenggara pada tahun 2015. Ada  4 program utama dalam acara ini, yaitu belajar bahasa dan budaya Thailand, mengikuti seminar mengenai pariwisata berkelanjutan, pertunjukkan seni dan budaya, serta kegiatan persahabatan.
                        Dalam menjalani program ini tentu saja saya merasa sangat aneh pada awalnya, bagaimana tidak, ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri yang ternyata ada cukup banyak hal baru yang harus saya jalani, antara lain memilah milah dengan teliti makanan yang hendak saya makan. Karena kita ketahui bersama di sana banyak terdapat daging babi yang dijual amat bebas, alias mencari makanan yang halal seperti daging ayam, makanan laut, atau daging sapi lumayan susah. Hal tersebut saya piker wajar saja karena mayoritas penduduk Thailand yaitu sebanyak 94,6% beragama Budha. Sedangkan penduduk yang beragama Islam hanya sekitar 4,6% dari total penduduk yang ada di Thailand. Wajar juga bila kami yang pergi kesana bersama, cukup menjadi sorotan bagi warga asli karena beberapa dai kami khususnya wanita, mengenakan jilbab. Sebenarnya kami juga merasa cukup heran mengapa wanita-wanita disana banyak yang mengenakan pakaian mini. Kami heran apakah mereka tidak merasa berbahaya dengan gaya pakaian mereka itu? Saat saya menanyakannya pada Liaison Officer yang memandu program kami, dia menjawab hal itu biasa saja karena memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Mereka yang mengenakan pakaian seksi tersebut merasa tidak berbahaya, mereka pikir bahwa para lelaki tidak akan mengganggu mereka hanya karena pakaian mereka itu, ini disebabkan pakaian semacam itu sudah biasa ada dimana pun sehingga kaum laki laki sudah merasa bosan. Hahahaha, bagi saya jawabannya itu benar juga. Bayangkan saja jika hal tersebut terjadi di Indonesia! J
                        Hari pertama saya berada di Bangkok yaitu pada hari Sabtu tanggal 5 February 2011 saya disambut oleh panitia yang sudah lebih dulu berada disana. Kami bermalam di The Blooms Residence yang berlokasi di kota Bangkok daerah Shatorn. Kemudian dihari berikutnya, Minggu 6 Februari kami bertukar pasangan untuk check-in lagi di motel yang sama. Kami menghabiskan waktu luang kami ini dengan pergi ke Siam Paragon, yaitu maol terbesar di ASEAN. Tentu saja kami memilih tempat ini karena lokasinya yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Kami tidak mengunjungi tempat-tempat budaya seperti museum atau temple di hari berikutnya sudah ada jawdal kesana dan saran panitia memang untuk tidak bepergian jauh sehingga tenaga kami tidak banyak terkuras. Hari ketiga, Senin 7 February 2011  saya meluncur menuju Bangkok University guna menjalani hari pertama  yaitu mengikuti program perkenalan dan persahabatan, dasar-dasar kebudayaan dan sejarah tentang Thailand, perkenalan bahasa Thailand, kemudian makan siang bersama dengan Liaison Officer beserta rektor Bangkok University. Sungguh menyenangkan karena pemandu kami yaitu Gift dan Ging sungguh sangat ramah dan murah senyum. Mereka banyak membantu kami bagaimana cara berkomunikasi dengan warga asli Thailand dan tentu saja memberikan beberapa tips yang berguna saat kami menawar barang belanjaan, lumayan untuk mendapatkan harga semua barang dengan potongan hingga 50%, kecuali makanan tentunya. Sama dengan di Indonesia, untuk membeli suatu barang atau jasa transportasi, kita bisa menawarnya, namun untuk makanan tentu tidak sopan jika kita menawarnya. Hari berikutnya yaitu Selasa 8 February 2011 kami mengikuti “Seminar on Sustainable Tourism” yang diberikan oleh Mr. Siwasak yang juga sering memberikan seminar ini di Malaysia. Selain itu, kami juga mengkuti program Bahasa Thailand dan kelas kebudayaan. Malam harinya saya menggunakan waktu saya untuk melihat keindahan kota. Kemudian pagi hari Rabu, 9 Februari 2011 saya masih mengikuti pelajaran bahasa dan budaya Thailand di Bangkok University. Hal yang membuat saya sedikit jengkel di hari itu adalah saat malam hari saya berbelanja di MBK, saya tidak mendapatkan taksi untuk pulang ke penginapan karena saya mengalami rush hours, sehingga saya memutuskan untuk menggunakan Tuk-Tuk, yaitu sejenis bajaj seperti yang ada di Jakarta namun ukurannya lebih besar dan amat lincah! Transportasi ini termasuk jenis transprtasi tradisional Thailand yang tentu saja perlu Anda coba jika Anda mendapatkan kesempatan ke Thailand. Namun saya juga merasa bersalah karena saya menawar jasa Tuk-Tuk dengan 100 baht untuk 4 orang. Saya merasa bersalah karena supir Tuk-Tuk itu tetap teguh memberikan harga 120 baht. Karena saya yang ngeyel dan supirnya pun ngeyel, tawar-menawar kami cukup lama hingga kami dikagetkan oleh peluit polisi yang berbunyi memekakkan telinga. Bagaimana tidak memekakkan, polisi tersebut meniupnya tepat di belakang telinga saya hendak memberikan sanksi pada supir Tuk-Tuk di depan saya karena berhenti pada tempat yang seharusnya tidak boleh berhenti hingga menimbulkan cukup kemacetan di belakangnya. Dengan gesit polisi itu berlari menuju Tuk-Tuk dan menarik kunci Tuk-Tuk tersebut. Seperti yang saya katakana sebelumnya karena Tuk-Tuk bisa berjalan lincah dan gesit, tentu saja Tuk-Tuk tersebut selamat dan berhasil kabur. Subhanallah, sesungguhnya saya dan teman-teman saya disitu sudah khawatir bahwa kami juga akan mendapat teguran dari polisi, namun karena kami terlihat sebagai orang asing, polisi tersebut tidak jadi berkata apapun, kami pun kabur. J
                        Kamis, 10 Februari 2011, kami delegasi dari Indonesia mempersembahkan tarian asal Indonesia, antara lain Gebyar-gebyar dan Saman. Waktu yang diberikan kepada kami untuk pertunjukkan hanya satu jam saja sehingga hanya beberapa peserta dai Indonesia saja yang unjuk gigi. Kemudian sebagai penutup hari terakhir di Bangkok University, sore hari kami menari bersama mahasiswa Bangkok University di Gymnasium. Pengalaman ini sungguh unik karena kami dapat saling tukar budaya dan belajar bersama. Berikutnya hari Jum’at 11 Februari 2011 adalah hari yang melelahkan karena kami harus sudah siap jam 8 pagi waktu setempat untuk pergi city tour bersama Liaison Officer Bangkok University. Tempat wisata yang kami kunjungi hari itu adalah Grand Palace, tempat ini adalah sebuah istana yang di dalamnya dihuni oleh raja beserta keluarganya. Tempat ini sungguh mengangumkan karena bangunannya yang sungguh klasik, apalagi malam hari saat istana ini disinari cahaya lampu, tempat ini terlihat seperti emas yang berkilau. Kemudian kami mengunjungi beberapa patung Buddha seperti Wat Pho atau Reclining Buddha. Tempat ini adalah sebuah tempat ibadah umat Buddha yang terdapat sebuah oatung Buddha yang sangat besar hingga mereka menyebutnya raksasa. Ada hal yang unik disana, yaitu kita bisa mendonasikan uang kita untuk proses renovasi wihara dengan cara member koin uang Thailand kuno dan memasukkannya satu per satu dari pundi tanah liat ujung kiri hingga pintu keluar. Banyak wisatawan asing yang mencobanya dan mengabadikan moment itu dengan kamera yang mereka bawa. Tak hanya bangunannya yang menawan, namun juga tembok bangunan itu bukan tembok biasa, namun tembok bergambar yang mencerikan mengenai Ramayana. Jika melihat detail-nya, sungguh saya sangat kagum dengan pembuatnya dan tentu saja sangat kreatif hingga terlihat manis. Saya akui orang Indonesia kalah dengan orang Thailand dalam hal mengemas apa yang mereka miliki. Jika Thailand memiliki sungai yang indah, Indonesia pun punya. Namun yang tidak dimiliki oleh Indonesia adalah kemasannya atau bungkusnya. Maksud saya adalah mereka mampu membungkus atau mengemas apa yang mereka miliki dengan manis sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk dating melihat. Ini menjadikan saya inspirasi agar mampu mengubah hidup saya menjadi lebih menarik dimulai dari hal yang sederhana seperti yang ditunjukkan pada tembok di Wat Pho. J
                        Tanggal 11 Februari 2011 hingga tanggal 13 Februari 2011 saya banyak mengabiskan waktu saya untuk menjelajahi Bangkok. Seperti mencoba Chao Praya, menuju Wat Arun, dan mencoba pakaian tradisioanal Thailand. Selain itu saya berbelanja oleh-oleh di dekat KBRI karena harganya yang murah. Malam terakhir program AYFN kami habiskan di atap tempat penginapan kami. Indahnya melihat Bangkok dari atas saat malam hari. J
                        14 Februari 2011 sangat saya nantikan kedatangannya, bukan karena Valentine’s Day namun karena hari inilah saya kembali ke tanah air yang sudah cukup saya rindukan. Pukul 20.15 waktu setempat saya take off dari Shuvarnabhumi Airport Thailand menuju Soekarno-Hatta International Airport Indonesia. Namun saya harus sedikit bersabar karena penerbangan saya selanjutnya yaitu dari Jakarta menuju Jogjakarta akan diberangkatkan tanggal 15 Februari 2011 pukul 06.00 pagi. Sungguh melelahkan memang, namun tidak terasa melelahkan karena akhirnya kembali lagi ke Jogja dengan kondisi yang Alhamdulilah sehat.

                        Pengalaman saya ini adalah pengalaman pertama saya ke sebuah tempat dimana tidak ada sanak keluarga dan dengan berbagai macam hal baru yang berbeda seperti yang saya ketahui sebelumnya. Menyenangkan dan cukup menantang! Banyak hal kecil yang menjadi perhatian saya di sana hingga menginspirasi saya untuk tetap melangkah maju dan semoga kelak pengalaman saya ini dapat berlanjut serta teman-teman juga dapat mendapatkan kesempatan tersebut. Tentu ini amat menyenangkan karena saya pernah merasakan bukan saja Dukuhwaluh yang menjadi tempat tinggal saya, tak lagi Purwokerto yang menjadi asal saya, dan bukan pula Jawa Tengah yang menjadi kampung halaman saya, namun saya pernah merasakan bahwa Indonesia-lah yang menjadi rumah saya. We’ll never know how good it is until we try it. Don’t close your door so you could open one that leads you to the perfect road and other side of this world, do it well and kinda best thing will come to you J

Sunday, August 9, 2015

di tepi sungai Piedra aku duduk dan menangis


"aku bisa saja". apakah arti perkataan ini? sepanjang kehidupan kita, ada hal-hal yang mestinya terjadi namun toh tidak terjadi. saat-saat magis itu berlalu tanpa disadari, dan kemudian tiba-tiba, tangan takdir mengubah segalanya...



galaxy ..  dan semuanya, semakin tajam di ingatan meski ribuan kali aku memaksanya pergi...
happy wedding and happily ever after..