Translate

Monday, March 16, 2015

CIQAL Peringati Hari Perempuan Sedunia


Solider.or.id, Yogyakarta- Dalam rangka memperingati Internasional Women Day 2015, Center for Improving Qualified Actifities in Life of People With Disability (CIQAL) mengadakan diskusi publik dengan tema Peran Serta Masyarakat dalam Mendorong Pengesahan RUU Kekerasan Seksual (Termasuk kepada difabel) pada Sabtu (7/3) di kantor Ciqal Jalan Jambon RT 7 RW 23 Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Materi diskusi diberikan oleh dua orang pemantik diskusi dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dengan materi : Mendorong kebijakan penghapusan Kekerasan Seksual bagi perempuan Penyandang Disabilitas dan dari Yayasan Rifka Annisa Yogyakarta, dengan materi Memperkuat Upaya Pencegahan dan Penanganan Perempuan Disabilitas Korban Kekerasan Seksual.
“Tujuan dari kegiatan ini agar dapat terselenggaranya diskusi publik tentang sosialisasi RUU Kekerasan Seksual di Daerah Istimewa Yogyakarta dan adanya kampanye untuk menggalang dukungan RUU Penghapusan Kekersan Seksual di Daerah Istimewa Yogyakarta”, jelas Ibnu Sukaca perwakilan dari Ciqal.
Ibnu menambahkan bahwa output dari kegiatan ini agar bertambah lagi sebanyak 50 orang dari masyarakat dan pemerintah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang lebih memahami RUU Kekerasan Seksual, adanya dukungan dari masyarakat dan pemerintah pada RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta adanya minimal 200 tanda tangan tokoh masyarakat di Daerah Istimewa yogyakarta, untuk mendukung penyusunan dan pengesahan RUU Kekerasan Seksual.
Kegiatan ini dilakukan selama dua hari, pada hari Sabtu (7/3) Diskusi Publik dan pada hari Minggu (8/3) Sunday Morning Gathering untuk penyandang disabilitas dan Kampanye untuk menggalang dukungan pengesahan RUU Kekerasan Seksual di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Diskusi dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain komunitas / tokoh masyarakat dan agama juga dihadirkan dari pihak-pihak terkait seperti kepolisian, pemerintah Daerah Kabupaten Kota di DIY juga guru pengajar, dosen, mahasiswa, 4 orang difabel tuli dan juru bahasa isyarat. (Ramadhany Rahmi)

Bandung Disaster Study Group Gandeng Pendamping Difabel dalam Pelatihan Kebencanaan



Bandung Disaster Study Group (BDSG) bekerja sama dengan ASB (Arbeiter-Samariter Bund) mengundang 15 pendamping difabel untuk mengikuti pelatihan pengurangan resiko bencana gempa pada Selasa (10/3) di SLB N 2 Yogyakarta. Bandung Disaster Study Group merupakan kumpulan pemuda yang concern pada isu kebencanaan, termasuk bagaimana cara pengurangan resiko bencana.
“Sebelum kegiatan ini, kami (BDSG) sudah mengadakan pelatihan di beberapa sekolah di Bandung dan Yogyakarta juga live in di rumah warga Kotagede Yogyakarta. Rumah warga Kotagede banyak yang tidak berjarak atau mepet-mepet. Itu salah satu indikasi rumah rentan dan beresiko saat terjadi bencana”, ujar Aldorio Prastyawan Satriajaya selaku relawan BDSG.
Aldo menambahkan, kegiatan live in tersebut bersifat sharing pengalaman, bagaimana cara mencegah agar korban bencana bisa diminimalisir. Contohnya dengan menata perabot rumah di posisi yang tidak membahayakan penghuni rumah saat terjadi bencana.
Inisiatif pengadaan pelatihan untuk pendamping difabel ini berangkat dari kegelisahan Aldo setelah mengetahui bahwa gempa yang terjadi di Bantul Yogyakarta tahun 2006 banyak orang-orang difabel yang tidak terakomodir mengenai pengetahuan kebencanaan yang akhirnya menjadi korban. Atau masyarakat yang tadinya tidak difabel ketika terjadi bencana tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri, sehingga menjadi difabel karena tertimpa reruntuhan.
Tim BDSG berharap, peserta yang telah mengikuti pelatihan ini dapat membagikan ilmunya kepada orang lain termasuk anak didik di Sekolah Luar Biasa (SLB) agar lebih banyak orang yang mau mengerti tentang kebencanaan. (Ramadhany Rahmi)

17 Difabel Yogyakarta Mendapatkan SIM D

Solider.or.id, Yogyakarta- Sejumlah 17 orang difabel domisili Bantul Yogyakarta lolos tes praktik dan mengikuti tes teori di Polres Bantul yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman No. 202 Bantul, Yogyakarta Kamis (12/3) pada pukul 09.00. Sebanyak lima difabel tuli yang lolos tes praktik, dan satu orang difabel tuli tidak lolos. Sedangkan dari difabel daksa sebanyak 12 orang yang lolos tes praktik, dan satu orang difabel daksa yang tidak lolos.
Sebelumnya, difabel mendaftarkan diri untuk pengajuan SIM C & D ke Difabel Motorcycling Club Yogyakarta, setelah itu melaksanakan tes kesehatan dan tes praktik serta pas foto pada Selasa (3/3). Biaya pembuatan SIM  C sebesar 100 ribu rupiah dan SIM D sebesar Rp 75.000,-.
Doan Kurniawan selaku peserta difabel daksa mengatakan bahwa satu difabel tuli tidak lolos tes praktik karena kurang lihai menggunakan motor. “Pas membelokkan motor masih sangat lambat terus kakinya turun dari motor pas ngerem”, ungkap Doan. Doan memberi saran kepada teman-teman tuli agar tidak menurunkan kaki saat berbelok pada proses tes praktik agar dapat dinyatakan lolos.
“Iya, semua teman-teman tuli disini daftar untuk SIM C, bukan SIM D karena motor kami roda 2. Kalau SIM D untuk motor yang roda tiga,” ujar Aprilia Nur Rachma salah seorang peserta difabel tuli dalam bahasa isyarat.
Aprilia menambahkan, Polres Bantul cukup kooperatif membantu difabel dalam proses pembuatan SIM karena difabel tuli pengguna motor roda dua tidak kesulitan mengajukan SIM C. Hal tersebut berbeda dengan pengalaman sesama difabel tuli dalam pengajuan pembuatan SIM C di Polres Kota Yogyakarta. Mereka tidak bisa mengajukan SIM C karena ketentuan Polres Kota Yogyakarta yang menyatakan bahwa seluruh jenis disabilitas masuk ke dalam jenis SIM D. (Ramadhany Rahmi)

Turnamen Futsal Tuli se-DIY dan Jateng Porturin 2015

Solider.or.id, Yogyakarta- Perhimpunan Olahraga Tuna Rungu Indonesia (Porturin) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelanggarakan turnamen futsal tuli se-DIY dan Jateng pada Minggu, 22 Februari 2015 bertempat di Jogokaryan Futsal Yogyakarta mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB. Turnamen futsal ini diadakan rutin setiap tahun dan tidak hanya diadakan di Yogyakarta saja. Terdapat lima tim yang mengikuti turnamen ini yakni Tim Futsal Jogja A, Tim Futsal Jogja B, Tim Futsal Klaten, Tim Futsal Solo, dam Tim Futsal Sleman.
“Turnamen futsal kemarin baru pertama di Yogyakarta. Tujuannya bisa mengembangkan kemampuan futsal tuli, juga berteman sama tim futsal lainnya”, ungkap Riski Purna Adi selaku ketua panitia dalam bahasa Isyarat.
Biaya pendaftaran sebesar Rp 250.000,- per tim. Awalnya tim futsal Bantul Yogyakarta dan tim futsal Kulon Progo Yogyakarta sudah berencana mendaftar namun kedua tim mengundurkan diri karena alasan internal. Hingga turnamen futsal tuli ini selesai pukul 14.00, pemenang sudah ditentukan. Yakni juara 1 dimenangkan oleh Tim Futsal Jogja A, juara 2 dimenangkan oleh Tim Futsal Klaten, juara 3 dimenangkan oleh Tim Futsal Solo, juara 4 dimenangkan oleh Tim Futsal Sleman, dan juara 5 dimenangkan oleh Tim Futsal Jogja B.
Hadiah yang disediakan oleh panitia berupa tropi dan uang tunai sebesar Rp 500.000,- untuk juara 1, tropi dan uang tunai sebesar Rp 350.000,- untuk juara 2, serta tropi dan uang tunai sebesar Rp 300.000,- untuk juara 3. Juara 4 dan juara 5 mendapatkan hadiah sebagai wujud apresiasi telah mengikuti kegiatan turnamen.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Porturin 2015 bekerja sama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia – Yogyakarta dan disponsori oleh Jogokaryan Futsal, Deaf Art Community, serta Pamella Swalayan. (Ramadhany Rahmi)

Difabel Tuli Belajar Agama Islam dengan Praktik Langsung

Sebanyak tujuh  orang difabel tuli rutin belajar agama Islam bersama di kediaman Pernodjo Dahlan yang beralamat di Jalan Karangtengah no.76, Nogotirto, Gamping, Yogyakarta. Kegiatan belajar agama Islam bersama ini rutin diadakan setiap Sabtu sore pukul 16.00 hingga sebelum maghrib sejak minggu pertama bulan Januari 2015. Sejak awal pembukaan kegiatan ini, peserta tuli terus bertambah dan terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung belajar bersama.
“Kegiatan ini sebut saja belajar bersama soalnya saya juga ingin belajar bahasa isyarat. Nanti setiap pertemuan kita belajar agama Islam bersama. Jadi kalo ada yang ingin ditanyakan, langsung saja tanya, nanti kita bahas bersama”, ujar Agus Sriyono selaku ustadz yang menemenai tuli belajar agama dengan disertai juru bahasa isyarat.
Agus menambahkan bahwa materi yang disampaikan kepada difabel tuli sebaiknya tidak terlalu banyak dan memberikan contoh atau praktek agar mempu dipahami tuli secara maksimal. Tuli juga diberi kesempatan untuk bertanya agar solusi yang selama ini mereka cari didapakan.
Sebelum masuk materi pembelajaran, Agus senantiasa mengingatkan bahwa ibadah harus senantiasa diikuti perasaan ikhlas. Materi yang diberikan pada pertemuan Sabtu, 28 Februari 2015 berupa tata cara berwudhu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Setelah semua peserta diberikan buku saku berisikan tata cara berwudhu, Agus langsung menjelaskan secara teori dan mempraktekkannya sebelum menutup kegiatan. Awalnya Agus mempraktekkan sebanyak dua kali di depan seluruh peserta tuli, namun peserta ternyata juga ingin mencoba agar dapat dilihat oleh Agus dan mendapatkan masukan.
Akhirnya seluruh peserta satu per satu mempraktikkannya dan diberi masukan oleh Agus. Kegiatan ini tidak dipungut biaya apapun dan siapa saja boleh bergabung bersama serta akan diberikan buku saku gratis dan makan bersama. (Ramadhany Rahmi)

Mengenal Difabel melalui Pementasan Seni

Solider.or.id, Yogyakarta- Perkumpulan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta asal Klaten menggelar Try Out untuk siswa sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas kelas 3 yang akan menghadapi ujian nasional pada April 2015 kelak. Kegiatan tersebut bernama Blastout (Balairungklass) 2015 dan diselenggarakan di gedung RSPD Klaten pada Kamis (19/2) dari pukul 07.00 WIB. Acara yang dihadiri oleh 1000 peserta try out ini juga mengundang komunitas seni difabel tuli, Deaf Art Community (DAC), untuk memberikan pementasan.
“Selain untuk menghibur peserta yang habis berkutat dengan soal, pentasnya DAC semoga bisa memotivasi mereka untuk menghadapi ujian nasional besok April. Ini kan juga sudah tahun ketiga kami bekerjasama dengan DAC,” ujar Nurma Salsabila selaku panitia bidang humas.
Nurma berharap, pementasan DAC tidak berhenti sampai acara ini selesai. Namun bisa bekerjasama lagi di tahun-tahun berikutnya. Tujuan lainnya agar semakin banyak pemuda yang mengenal dan peduli kepada teman-teman difabel.
Hadir 9 personil DAC mengisi pementasan selama 30 menit. DAC diiringi oleh Beatboxing of Jogja (Bejo) saat mementaskan tarian hip-hop. Meskipun anggota DAC semua tidak bisa mendengar dengan telinga mereka, namun mereka mampu merasakan getaran dari musik yang diciptakan oleh Bejo melalui detak jantung mereka. Itu lah yang membuat personil DAC mampu menari seirama dengan musik Bejo.
Pementasan yang dibawakan DAC antaranya musik beatbox dari Bejo, pantomim, bermain alat musik jimbe, puisi isyarat, dan tarian hip hop. Seluruh personil DAC terlihat bersemangat dan tersenyum saat seluruh penonton mengisyaratkan “I Love You” dan bertepuk tangan dalam bahasa isyarat. (Ramadhani Rahmi)

Pameran Seni Rupa Karya Anak-anak Difabel Komunitas Perspektif



Solider.or.id, Yogyakarta- Komunitas Perspektif menyelenggarakan pameran seni rupa untuk pertama kali pada Minggu (22/2) setelah terbentuknya komunitas ini pada Oktober 2014 di Taman Budaya Yogyakarta. Seluruh peserta pameran ini adalah anak difabel yang didampingi oleh orang tua masing-masing dengan bersemangat. Pameran ini yang diadakan di sekretariat perspektif, Indonesia Boekoe [i:boekoe] - Jalan Sewon Indah 1, Bantul, Daerah IstimewaYogyakarta ini juga dihadiri oleh beberapa personil organisasi seni dari Australia bernama Tutti.
“Perspektif” adalah sebuah komunitas seni rupa yang mengajak berkehidupan setara bersama penyandang disabilitas. Seni rupa merupakan media untuk bersama belajar saling peduli dan saling menghargai dalam kehidupan bersama dalam proses eksperimentasi, eksplorasi, kreasi, dan apresiasi. Anggota komunitas “Perspektif” adalah anak-anak penyandang disabilitas, antara lain mental retarded (MR), difabel rungu-wicara, difabel daksa, slow learner, yang aktif berkegiatan seni rupa.
"Kami yang tergabung dalam komunitas Perspektif membuat karya seni rupa dari bentuk titik. Bisa menggambar bermacam-macam benda di atas kanvas dan bisa dari macam-macam bahan seperti potongan kertas, kerang, kancing, dan biji-bijian", ungkap Laksmayshita Khanza Larasati Carita dalam bahasa Isyarat saat memberikan sambutan pembukaan pameran.
"Penguatan rasa percaya diri setiap anak dapat menguasai media seni rupa adalah dengan tahap penguasaan elemen seni rupa yang paling dasar yaitu : Titik. Setiap anak bisa menguasai Titik menggunakan anggota bagian tubuh mana pun, dengan bahan apa pun yang ada dan mudah didapat di sekitar mereka", jelas Moelyono selaku fasilitator Komunitas Perspektif.
Komunitas ini beranggotakan7 anak difabel berusia antara 9 - 19 tahun yang terdiri dari difabel tuli, difabel daksa, difabel mental retardasi, dan difabel grahita. Selain anak difabel anggota Perspektif yang didampingi orang tua, pameran ini juga dihadiri oleh Moelyono selaku fasilitator, Harta Nining Wijaya selaku koordinator, serta Agoes Widhartono selaku wartawan-peneliti media dan jurnalisme. Sebelum tamu undangan dipersilakan menonton hasil karya seni rupa, panitia memberikan kesempatan kepada seluruh pengunjung untuk membuat bentuk bebas dari bahan yang telah disediakan. (Ramadhani Rahmi)